Laman

Roy Tanck's Flickr Widget requires Flash Player 9 or better.

Tampilkan postingan dengan label Cerita Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Muslimah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Februari 2012

Memulai Dari Akhir


Saudaraku,
setiap cita-cita, harapan yang membuncah di hatimu
sesungguhnya adalah anak panah yang siap dilesatkan dari busurnya
Ia seperti kuda gagah terhebat yang siap berlari di padang luas
Ia ibarat tinta yang siap untuk menuliskan berlembar tulisan, bahkan berjuta buku
Ia adalah gelegak hati yang ingin segera terpenuhi
Ia selalu kita rindukan kemunculannya,
Hingga membungai tidur kita


Inilah cita-cita
Seperti keharuan dan kerinduan yang mengharu biru di doa Umar bin Khattab ra agar wafat di Madinah, hanya di Madinah. Seperti doa Sa’d bin Mu’adz ra saat perang Khandaq, agar Alloh hanya mengambil nyawanya setelah memerangi bani Quraizhah. Bani yang telah mengkhianati perjanjian dengan Rasulullah dan kaum muslimin. Keduanya menemukan muaranya,Umar bin Khattab wafat di Madinah. Sa’d bin Mu’adz ra terluka di perang Khandaq namun syahid ketika terjadi perang Bani Quraizhah. Kesyahidannya dicemburui semua penghuni bumi, kesyahidan yang mengguncangkan Arsy Allah. Dan jenazahnya diangkat oleh para malaikat (T_T). Sungguh cita-cita mulia bertemu dengan penggenapan dari Rabb tercinta.

Saudaraku,
Mari kita mulai dari akhir
Muara mana yang kita pilih untuk berlabuh
Daratan mana yang kita pilih untuk singgah
Sebutkan saja, tanpa ragu

Rasulullah SAW yang mulia, telah mengajarkan betapa azzam menggapai yang akhir itu menjadi energi dahsyat yang menggetarkan hati. Saat itu, di perang Khandaq. Kala menghantamkan cangkulnya ke tanah yang keras, Rosulullah menyampaikan masa gemilang di masa yang akan datang.

“Allahu Akbar, aku diberi kunci-kunci Syam. Demi Allah aku benar-benar bisa melihat istana-istananya yang bercat merah saat ini.
Allahu Akbar, aku diberi tanah Persi. Demi Allah saat inipun aku bisa melihat istana Mada’in yang bercat putih.
Allahu Akbar, aku diberi kunci-kunci Yaman. Demi Allah, dari tempatku ini aku bisa melihat pintu-pintu gerbang Shan’a.”

Bagi orang yang tak beriman, pasti sabda Rasulullah itu seperti dongeng pengantar tidur, fabulous, luar biasa tapi fiktif. Bagaimana mungkin dengan kondisi saat itu yang sangat menyedihkan, mereka akan membebaskan negri-negri besar? Ya saat itu, saat perang khandaq. Ketika para shahabat harus terus menggali parit dengan rasa lapar menyengat karena sedikitnya makanan, rasa letih mendera. Sementara kemenangan seperti utopia semata, kemenangan seperti secuil hitam ujung kuku. Bagaimana mungkin mereka akan membebaskan Syam, Persi dan Yaman.

Tapi sejarah telah menorehkan dengan tinta emas
Semuanya ditaklukkan, walau saat itu Rasulullah telah berpulang ke haribaan Allah.

Ah itukan Rasulullah…apalah kita ini
Saudaraku, mari kugandeng tanganmu menyusuri sepenggal episode pemuda paling mempesona, Muhammad Al-Fatih

Latuftahannal konstantinniyyah falani’mal amiiru amiiruha wala ni’mal jaysu daalikal jays”

"Sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan, sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin pasukan pada saat itu dan sebaik baik pasukan adalah pasukan pada saat itu."

Para shahabat berlomba, bergemuruh kerinduan. Ingin segera merealisasikan janji Allah dan RasulNya. Ingin berperan dalam membebaskan Konstantinopel. Khalid bin Walid mampu membebaskan Damaskus, tapi konstantinopel belum tersentuh. Shalahuddin Al-Ayyubi, sang pembebas Al-Quds, ikut mengambil bagian tapi belum mampu meruntuhkan benteng-benteng Konstantinopel.
D antara jiwa yang bergemuruh untuk memenuhi janji Rasulullah adalah Muhammad Al-Fatih. Ia tidak duduk menunggu. Ia berkemas, bersiap, dan berdoa. Ia tahu hanya pasukan terbaik yang mampu membebaskan Konstantinopel. Dan sebaik-baik pasukan adalah yang paling dekat dengan Rabbnya
Hidupnya dihabiskan untuk banyak beribadah dan menuntut ilmu. Ia belajar ilmu-ilmu agama seperti Al-Qur'an, hadits, fiqih, bahasa (Arab, Parsi dan Turki), matematika, falak, sejarah, ilmu peperangan dan sebagainya.Ia ingin menjadi sebaik-baik pasukan yang telah disabdakan oleh Rasulullah.

Inilah sepenggal kisah di sepertiga malam menjelang penyerbuan
Dihadapan pasukannya yang berdiri, Muhammad Al-Fatih berkata:
”Amanah ini hanya layak dipikul orang terbaik. Tujuh ratus tahun lamanya nubuah Rasulullah telah menggerakkan mujahid-mujahid tangguh, Tapi Allah belum mengizinkan mereka memenuhinya. Aku katakan kepada kalian:
Yang pernah meninggalkan shalat fardhu sejak balighnya, duduklah
Yang pernah meninggalkan shoum Ramadhan, duduklah
Yang pernah mengkhatamkan Al-Qur'an lebih sebulan, duduklah
Yang pernah kehilangan hafalan Al-Qur'annya, duduklah
Yang pernah kehilangan shalat malamnya, duduklah
Yang pernah meninggalkan puasa Ayyamul Bidh, duduklah."

Semua anggota pasukannya duduk satu-persatu, sesuai tingkatan dimana amal sholih telah mereka kerjakan. Hingga di akhir pertanyaan, tak ada lagi anggota pasukan yang berdiri, semua duduk sambil penuh isak tangis dan takut tidak diikutkan dalam peperangan. Hanya satu orang yang tersisa berdiri, dialah sang pemimpin pasukan itu, Muhammada Al-Fatih. Subhanallah...

Muhammad Al-Fatih memilih seperti apa dirinya di masa yang akan datang. Memulai hidupnya dgn menentukan akhir yg ingin direngkuhnya. Dan sekali lagi, Allah menggenapkan cita-citanya. Sejarah mencatat, keberhasilannya membebaskan Konstantinopel dalam usia yang masih sangat muda, 23 tahun.

Nah sekarang saudaraku, bagaimana dengan kita?

Ah, hebatnya kalau aku bisa jadi apoteker yg alim, yang membebaskan manusia dari obat yang haram
Duhai, andai aku jadi pengusaha kaya semacam Abdurrahman bin Auf, yang hartanya penuh keberkahan
Mantapnya, kalau bisa jadi web designer hebat yang akan mengabarkan kebenaran Islam kepada dunia

Tapi tentu saja tidak cukup hanya berangan-angan, dan mimpi kosong. Aha, kalau kita hanya duduk-duduk, menghabiskan waktu dengan bercanda ria, maka cita-cita menjelma menjadi angan-angan kosong-maaf- hanya sampah.

“Kau harap keselamatan
Namun tidak kau tempuh jalannya
Sesungguhnya kapal tak mungkin
Berjalan di daratan.”

Karena cita-cita bukan hanya diam
Cita-cita adalah energi yang mendorong pecitanya selalu maju, melesat
Energi yang diciptakannya membuat yang tampak mustahil menjadi mungkin
Mengubah yang sukar menjadi mudah
Mendekatkan yang jauh menjadi dekat

Cita-cita mulia mengalirkan keberkahan
Cahayanya meletup-letup, bersinar ke penjuru, menerangi gulita
Ibarat rekah fajar membelah malam

Cita-cita harus diperjuangkan…sekaligus dimohonkan penggenapannya oleh Robul Izzati. Jangan terburu cemas melihat panjangnya perjalanan. Karena bila kita sudah mulai melangkah, jaraknya akan semakin dekat. Jangan terburu takut dengan terjalnya tebing, Karena kita dikaruniai kaki yang kokoh dan pijakan yang kuat. Dan apabila lelah, letih, menderamu. Ingatlah tak ada yang sia-sia. Peluh, keringat, cucuran air mata, bahkan luka yang berdarah-darah, mendapatkan balasan yang setimpal. Semakin gelap perjalanan, Insya Allah semakin dekat pada fajar kemenangan

“Dan apabila hamba-hambak-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat, Aku mengabulkan doa orang yang berdoa bila ia berdoa kepada-Ku.” (Al-Baqarah:186)
”Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al Baqarah : 214)

Semuanya seimbang dalam takaran. Yang tidak beriktiar, cacat dalam syari’at. Yang terlalu memuja iktiar, yakin semua hasil karena cucuran keringatnya sendiri, Telah menodai tauhidnya.

Saudaraku,
Sekarang sebutkan muaramu
Sebutkan daratan yang ingin kau singgahi
Tunjuk langit-langit dunia yang ingin kau jelajahi
Cakrawala mana yang ingin kau sibak
Bismillah…kita mulai perjalanan untuk menempuhnya
Semoga Allah menggenapkannya
Amin

Rabu, 01 Februari 2012

Kupenuhi Pesanmu, Rahma


Muharram 1405 H,
“Kenalkan, ini Rahma, baru tiga hari di sini,” ucap ibu pemilik rumah
kost yang akan kutempati. Senyum manis dan tatap mata yang ramah menghiasi
wajahmu. Jilbab putih yang kau pakai semakin menambah keanggunan si pemilik
wajah yang memang cantik.
“Wilfa…, panggil saja Ifa,” kataku sambil mengulurkan tangan. Engkau
menyambut dan menggenggam tanganku erat. “Rahma….,” katamu lembut. “Mudah-
mudahan Ifa betah tinggal di sini,” katamu lagi. “Mudah-mudahan,” jawabku.
Itulah awal perkenalanku denganmu, mahasiswi baru asal Jogyakarta. Kita
menempati satu kamar di rumah Bu Santi, pemiliknya. Sikapmu yang ramah dan
terbuka membuat kita cepat akrab, sehingga teman-teman menyebut kita “Dua
Sejoli,” di mana ada aku di situ ada kamu. Sejak OPSPEK sampai hari-hari
pertama kuliah kita lalui bersama. Susah senang kita tanggung bersama. Maka
tak heran bila hari-hari selanjutnya merupakan hari-hari yang menyenangkan
bagi kita, karena masing-masing kita sudah seperti saudara satu sama lain
walaupun tempat asal kita berbeda, engkau dari Jogya, sedang aku dari Bandung.
Muharram 1406 H,
“Subhanallah……., kau kelihatan lebih anggun dengan pakaian itu,” ucapmu
kagum. Aku tersipu-sipu malu. Kuperhatikan diriku di kaca dengan busama muslimah
plus jilbab yang kupinjam darimu. Ya, aku berniat memakainya besok pada perayaan
Tahun Baru Islam 1 Muharram di kampus kita. Ketika menjelang tidur, fikiranku
melayang pada kejadian tadi siang. Aku merasa, pantulan bayangan di cermin itu
bukanlah diriku. Kulihat sosok anggun yang memancarkan cahaya iman di balik
busana. Timbul hasrat di hatiku untuk bisa seperti bayangan itu. Tapi…akh,
tidak ! Diriku masih kotor, pengetahuanku tentang Islam masih dangkal, kelaku-
anku masih jauh dari apa yang digariskan Islam.
Aku masih suka hura-hura dan
melakukan segala apa yang aku inginkan. Terbayang olehku orang tua dan saudara-
saudaraku di Bandung. Mereka, terutama Bapakku sangat mengharapkan agar aku
cepat menamatkan kuliahku dan bekerja di perusahaan besar tempat di mana Bapak-
ku memegang jabatan penting. Bapakku ingin agar aku seperti anak-anak dari
teman-teman relasinya yang saling berlomba-lomba mencapai kepuasan materi.
“Ada yang kaufikirkan, Fa?” pertanyaanmu mengejutkanku. “Boleh aku tahu ?”:
tanyamu lagi. Aku menghela nafasku, dan berkata,”Rahma….,sudah setahun kita
bersama. Belajar…, berdiskusi…, bercanda…, seakan-akan kita tak berbeda.”
Aku diam sejenak, kemudian menghela nafas lagi.
“Apa maksudmu, Fa ?” tanyamu sambil menatapku heran.
“Yach…,walaupun teman-teman tidak pernah membedakan kita, tapi hati kecilku tak dapat menyangkal. Ku akui, kita tidak sama. Ma…, masing-masing kita sudah saling tahu, siapa kau dan siapa aku. Tapi sampai sejauh itu kau tak pernah menyinggung tentang perbedaan kita.
Kau tak pernah menyinggung tentang pakaian dan penampilanku,” kataku hati-hati.
Engkau memandangku lekat-lekat seakan ingin berusaha mengetahui isi hatiku.
“Boleh kutanya
sesuatu padamu ?” tanyaku. Engkau mengangguk.
“Ma…, aku ingin tahu bagaimana perasaanmu ketika pertama kali kau kenakan busana muslimahmu itu,” kataku.
Kulihat kau tersentak. Lama kau pandangi aku, kemudian berkata,
“Sebelum kujawab pertanyaanmu, secara jujur kukatakan bahwa sebenarnya telah lama aku menanti
pertanyaan seperti itu darimu. Dan baru sekarang kau menanyakannya, tanpa aku
harus memancingmu, karena memang itulah yang aku harapkan. Fa…,ketika pertama
kali kukenakan busana muslimah ini, berbagai perasaan ada di hatiku, sedih,
terharu, takut, dan perasaan tentram campur jadi satu. Sedih, karena orang
tuaku tak suka melihatku berjilbab.
‘Terlalu fanatik’, itu kata mereka. Terharu, karena pertama kali dengan busana muslimah ini kuinjakkan kakiku di SMA, teman temanku juga kakak-kakak kelasku yang sudah berjilbab menyambutku dengan haru dan memberi selamat kepadaku.
Tapi rasa takut ketika itu masih menghantuiku kalau kuingat cerita kakak-kakakku tentang sulitnya mencari pekerjaan bagi si pemakai jilbab. Tapi…, lepas dari itu semua, ketentraman merasuk di hatiku.
Aku merasa diriku selalu berada dalam tatapan-Nya. Barulah saat itu kusadari,
itulah kebahagiaan yang kucari selama ini. Yah…, kebahagiaan yang haqiqi.
Akhirnya cobaan-cobaan kuhadapi dengan tabah, karena aku yakin Allah senantiasa
akan menolong hamba-Nya yang sungguh-sungguh melaksanakan syari’at-Nya,” katamu
dengan mata berkaca-kaca.
Entah mengapa, sejak itu aku mulai tertarik pada buku-buku Islam terutama
buku-buku tentang wanita, aku mulai rajin mengikuti ta’lim di sela-sela kesi-
bukan kuliah dan praktikumku. Diriku mulai terbiasa dengan rok dan kemeja
lengan panjang. Dan dalam lemariku sudah tersedia tiga buah jilbab yang senan-
tiasa kupakai ta’lim. Hari demi hari kita semakin dekat. Engkau sering menga-
jakku berdiskusi tentang Islam dan hal-hal yang pada mulanya masih terasa
asing bagiku. Akhirnya hasrat yang terpendam di hatiku selama ini mencapai
klimaksnya. Suatu malam kukatakan maksudku untuk berbusana muslimah kepadamu.
Sambil berlinang air mata engkau memelukku dan berkata :”Ifa…, aku bahagia
atas keputusanmu, kita kita sudah betul-betul sama, tidak ada lagi perbedaan
di antara kita. Semoga engkau mendapat berkah-Nya dan semoga Dia senantiasa
memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap berpegang pada syari’at-Nya.”
Akhirnya malam yang penuh haru itu kita isi dengan Qiyamul lail untuk lebih
mendekatkan diri kepada-Nya.
Muharram 1408 H
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kemarin kita telah menjalani
wisuda. Semua mahasiswa rantauan termasuk kita bersiap-siap pulang ke
kampung masing-masing.
“Selamat tinggal, kota hujan. Kota penuh kenangan. Kota tempat kami menyatukan hati dan fikiran. Kota tempat kami menuai benih-benih iman di hati.” Itulah kata-kata terakhir dalam hatiku ketika
mulai menaikkan kaki ke dalam bis yang akan membawaku ke Bandung. Kesedihan
melanda hatiku ketika dalam perjalanan fikiranku melayang, teringat kata-katamu terakhir kali saat kau mengantarku ke terminal.
“Aku harap, kau bisa datang ke walimahan kami di Jogya nanti,” ucapmu sedih campur bahagia.
Aku pun turut bahagia karena tak lama lagi engkau akan mendapat pendamping seorang
ikhwan di kota kelahiranmu.
“InsyaAllah, aku datang,” ucapku bergetar menahan haru dan sedih. Waktu itu kita berjanji untuk saling berkirim kabar lewat surat. Hanya seraut wajah yang berlinang air mata dan lambaian tangan yang kulihat lewat jendela kaca bis yang mulai bergerak.
“Selamat tinggal, Rahma…”ucapku dalam hati.
Kesedihanku belum reda ketika kulalui hari-hari pertamaku di Bandung,
kota kelahiranku. Tak terasa sebulan berlalu, rasa rindu ingin bertemu
denganmu mulai kutuangkan lewat surat pertamaku ke Jogya. Kutulis juga
permintaan maafku kepadamu atas ketidakhadiranku pada acara walimahanmu.
Walau saat itu ingin rasanya aku ke sana, tapi…musibah telah menimpa
Bapakku dalam perjalanan tugasnya ke Menado. Pesawat yang dinaikinya jatuh
dan beliau dipanggil ke hadirat-Nya. Dua minggu kemudian, suratmu datang.
Dalam suratmu kau mengatakan ikut merasakan kesedihanku dan berharap agar
aku tabah menghadapi musibah itu. Dari isi surat yang kautulis, aku menangkap
sinyal-sinyal kebahagiaan di balik goresanmu, ceritamu tentang Bang Hanif,
suamimu yang kaubilang kelewat sabar, dan sebuah kabar gembira karena kalian
sedang menunggu datangnya si buah hati.
Muharram 1410 H,
Dua tahun berlalu tanpa terasa. Kesibukan-kesibukanku sebagai guru sebuah
TK Islam menyita hampir seluruh waktuku. Walau begitu kusempatkan diriku
untuk membalas surat-suratmu. Tapi anehnya, surat terakhir yang kukirimkan
dua bulan yang lalu, sampai saat ini belum kau balas. Barangkali kau sibuk
dengan Aisyah kecilmu yang sudah berlari ke sana ke mari, mengajarkannya
mengaji, bernasyid, oh…alangkah bahagianya engkau. Aku melihat diriku
sendiri, seperempat abad sudah usiaku dan sampai kini masih tetap sendiri.
Tapi aku yakin, suatu saat nanti Allah akan memberikan aku seorang pendamping
yang akan memberiku buah hati seperti yang kau miliki. Aku tetap sabar menunggu
balasan darimu.
Suatu sore di hari Ahad, seorang perempuan setengah tua datang ke rumahku.
“Ini rumah Ibu Wilfa ?” tanyanya. “Ya, benar….saya sendiri Wilfa,” jawabku.
Kupersilahkan wanita itu masuk dan duduk. Sambil mempersiapkan minuman, tak
henti-hentinya aku berfikir mengingat-ingat wajah wanita itu, wajah yang
seakan-akan memendam duka teramat dalam.
“Rasa-rasanya aku pernah melihatnya,
tapi…di mana ya….?” fikirku. Kupersilahkan dia minum, lalu kutanyakan
maksud kedatangannya mencariku. Setelah dia memperkenalkan diri, barulah aku
ingat bahwa dia adalah ibumu dari Jogya. Engkau pernah menunjukkan foto beliau
kepadaku dulu waktu kita masih kuliah. Sewaktu kutanyakan kepadanya tentang
keadaanmu, wajah yang sendu itu kelihatan bertambah sedih bahkan butiran-butiran
air mata mulai membasahi pipinya yang sudah mulai keriput. Di sela-sela isak
tangisnya, dia mengatakan bahwa engkau telah dipanggil ke hadirat-Nya seminggu
yang lalu. Yah….leukimia yang sejak SMA kau derita telah memisahkanmu dari
mereka yang mencintaimu. Aku terhenyak mendengar ini semua, seakan tak percaya.
“Rahmah, kenapa kau tak pernah bercerita padaku tentang penyakitmu,” kataku
terisak. Wanita itu mengatakan bahwa engkau tak pernah menceritakan penyakit
yang kau derita itu pada siapapun termasuk aku dan suamimu. Ingatanku melayang,
teringat pada saat-saat terakhir bersamamu di terminal. Rupanya itulah saat
terakhir aku melihatmu. Engkau telah menghadap-Nya, mudah-mudahan engkau
bahagia di alam sana. Sebelum wanita itu pulang, beliau menyerahkan sepucuk
surat yang kautulis sebelum engkau pergi, dan dia berharap, agar aku dapat
memenuhi permintaan terakhir di surat itu. Kubuka surat itu, dan kubaca :
“Ukhti Wilfa, maafkan bila surat terakhirmu belum sempat kubalas. Aku sudah
merasa Dia akan memanggilku. Leukimia yang telah lama bersemayan di tubuhku
akan segera memisahkanku dari mereka yang kucintai dan mencintaiku. Maafkan
bila selama ini aku bersalah atau berdosa kepadamu. Aku berharap engkau bisa
memenuhi permintaan terakhirku. Tolong jaga Bang Hanif dan Aisyahku. Kuperca-
yakan mereka kepadamu. Aku sudah mengatakan masalah ini pada Bang Hanif, dan
dia berjanji akan berusaha memenuhi permintaanku. Aku mengharap ketulusan
hatimu, ukhti. Didiklah Aisyah bagaikan anak ukhti sendiri.”
Wassalamu
Rahma
Air mataku mengalir bertambah deras. Aku hanya berdoa mudah-mudahan aku dapat
melaksanakan pesanmu dengan baik.
Muharram 1412 H
“Aisyah…., tolong temani dik Azzam sebentar. Umi mau buatkan susu
dulu,” kataku sambil berlari ke dapur. Kesibukanku mendidik Aisyah dan
Azzam bertambah kalau Bang Hanif tidak di rumah. Beliau sedang menghadiri
peringatan tahun baru Islam 1 Muharram di masjid dekat rumah kami. Entah
mengapa, setiap datang bulan Muharram, aku teringat kembali kepadamu, Rahma.
Alhamdulillah…aku bisa memenuhi pesan terakhirmu, dua tahun yang lalu.
Ceritanya begini : Sebulah setelah Dia memanggilmu, seorang ikhwan beserta
gadis kecil berjilbab putih menemui paman dan ibuku untuk melamarku. Walaupun
aku belum pernah melihat Bang Hanif dan Aisyahmu, tapi perasaanku mengatakan
itulah mereka. Setelah kuceritakan isi surat itu kepada paman, akhirnya kami
pun menikah sebulan kemudian. Alhamdulillah….sekarang kami telah memiliki
dua buah hati yaitu Aisyah kita dan Azzam, buah hati kami.
Ukhti….,telah kupenuhi pesanmu. InsyaAllah, akan kudidik mereka agar
menjadi mujahid dan mujahidah yang nantinya akan membela Islam seperti apa
yang kita harapkan. Amiin yaa Robbal’aalamiin.
(Alhamdulillah tammat)

Minggu, 29 Januari 2012

Anak Tangga Berikutnya Bagi Mira


“Sstt…. Aku punya dagangan nih. Mau lihat nggak?” Mira tampak malu-malu membisikkan tawarannya ke telingaku. Tangannya menyodorkan sebuah tas kantong plastik besar berwarna hitam.

“Dagangan apa?” Aku bertanya sambil melongokkan kepalaku, mengintip isi kantong plastik besar yang ada di tangannya. Kedua tangan Mira spontan
membuka mulut kantong lebar-lebar hingga tumpukan beberapa dagangannya terlihat lebih jelas.

“Baju Muslim. Bagus-bagus deh, lagian murah-murah kok. Bisa dicicil lagi.” Ujarnya sambil malu-malu. Kulirik wajahnya dan dia tahu jika aku melirik wajahnya sehingga rona merah jambu langsung menghiasi wajahnya yang putih. Tangannya yang selalu menggenggam saputangan langsung membawa saputangan tersebut menutupi mulut dan daerah disekitar hidungnya.

“Duh, jangan melihatku seperti itu dong. Malu nih.” Katanya dengan sedikit gemetar. Aku tersenyum. Temanku ini memang sangatlah pemalu. Wajahnya manis, kalimat yang dia ucapkan juga selalu santun. Tapi sifat pemalunya itu selalu melekat erat dalam kesehariannya. Entahlah, apakah ada yang sudah tahu berapa jumlah gigi yang berderet di dalam mulutnya. Rasanya belum ada yang berhasil menebaknya karena memang jika berbicara dia selalu menutupi mulut dan daerah sekitar hidungnya dengan saputangan. Koleksi saputangannya lumayan banyak. Hampir tiap hari aku lihat dia mengganti corak saputangannya. Bisa jadi jika saat ini seluruh  pabrik saputangan di Indonesia terbakar habis, mungkin Mira adalah wanita yang paling kencang tangisan tanda turut merasa kehilangannya.

“Waduh ini orang. Kalau dagang nggak boleh malu lagi.” Aku menggodanya dan dia langsung tersenyum sambil menunduk.
Wajahnya kembali bersemu merah dan spontan saputangan di tangannya menutupi sebagian wajahnya. Aih.


“Iyah sih. Aku tuh sebenarnya nggak berbakat buat dagang seperti ini. Tapi aku mau usaha. Hmm…. Semula aku nggak percaya diri tapi suamiku mulai kepayahan dengan pekerjaannya jadi aku mau membantu dia. Kasihan dia kalau hanya dia yang berusaha membanting tulang ke sana kemari sedangkan aku tidak bisa apa-apa. Jadi aku tawarkan diri untuk ikut berdagang. Tapi entah deh. Baru nawarin ke kamu saja aku sudah gemetaran begini nih.” Ujarnya dengan jujur. Aku bisa memaklumi. Sebagai teman dekatnya aku tahu persis bagaimana super pemalunya Mira.

“Yah sudah. Kamu sudah memilih, artinya sekarang gimana caranya agar bisa mempertanggung-jawabkan pilihanmu ini. Aku ikut dukung deh.” Aku mencoba menawarkan support.

“Sip. Kamu bantu aku dagang yah. Aku yang belanja kamu yang nawarin barang-barang ini yah?” Matanya tiba-tiba berbinar penuh pengharapan.
“Enak saja. Itu mah namanya aku yang dagang, kamu yang bandar dong. Nggak bisa lagi. Kita kan nggak selalu bersama Mir. Ya sudah kamu belajar nawarin barang ini gih. Kalau tidak ditawarin mana ada orang yang tahu kamu sedang jualan.” Mendengar ucapanku Mira tampak sedikit panik. Bibir bawahnya digigitnya sendiri dan matanya berubah membesar.

“Yah… saya nggak bisa ngomong nih. “ Saputangannya mulai diletakkan guna  menutupi sebagian wajahnya. Aku mengulurkan tanganku dan menggenggam  pergelangan tangannya yang bersiap untuk menutupi sebagian wajahnya itu.

“Mulai sekarang aku bantu ini saja deh. Aku pegangin tangan kamu ini supaya tidak lagi rajin menutupi mulut kamu. Dengan begitu kamu bisa ngomong deh insya Allah. Kalau mulut sering ditutupi seperti ini, kapan ngomongnya coba?” Mira tersenyum kecut. Tangannya yang aku pegang tampak  gelisah ingin membebaskan diri. Aku tahan dengan kuat tapi penuh kelembutan. Kebiasaan jeleknya ini harus dihentikan. Kebiasaan menutupi mulut dengan saputangan adalah tanda pertama dari seorang yang kurang percaya diri. Untuk menjadi pedagang, dibutuhkan rasa percaya diri yang sangat besar.

“Ayo aku temani menemui gerombolan ibu-ibu yang ada di pojokan sekolah sana.” Kutarik tangannya setengah memaksa. Mira terseret-seret mengikuti  langkahku.

“Wah… jangan saya yang ngomong. Aku nggak bisa ngomong, kamu saja yah yang ngomong. Duh…. Saya harus ngomong apa?” Mira semakin panik dan mencoba membebaskan pergelangan tangannya yang aku genggam dengan sangat  erat. Aku menulikan telingaku. Tujuanku tetap, segerombolan ibu-ibu yang tampak sedang berbincang-bincang dengan asyik di pojokkan dekat taman itu. Mereka adalah ibu-ibu muda yang sedang menunggu anak-anaknya yang memang masih belum bisa ditinggal sekolah sendirian.

“Assalamu’alaikum ibu-ibu….” Sapaku langsung dan seperti koor langsung dibalas dengan ramai. Mira sudah tidak lagi tampak panik. Tangannya yang  memegang saputangan aku genggam dengan sangat erat tapi tangan kirinya yang semula memegang kantong plastik hitam besar itu sudah tidak lagi memegang kantong tersebut. Kantong itu sudah digeletakkan di atas lantai  semen. Tangan itu sedang mencari posisi yang nyaman untuk menutupi sebagian mulutnya. Duh, Mira.

“Ini nih, BU Mira mau nawarin sesuatu. Ayo Mir, tadi kamu mau nawarin apa?” Perlahan tubuh mungil Mira kudorongkan ke tengah ibu-ibu yang sudah memperhatikan kedatangan kami. Mira tergugu. Gugup dan sedikit panik. Tapi secara spontan dia langsung membuka mulut kantong plastik hitam besarnya. Tanpa dikomando ibu-ibu muda yang semula hanya ngobrol tak tentu arah dan tertawa-tawa itu mencomot tumpukan dagangan yang ada di tangan Mira. Beberapa langsung mengepas pakaian muslimah di badannya.  Beberapa langsung mencari ukuran yang sesuai. Aku menepi tidak ikut-ikutan. Dari jauh aku perhatikan Mira yang semula diam saja mulai menjawab satu persatu pertanyaan yang diajukan oleh ibu-ibu yang mengelilingi dagangannya. Lambat laut sikap gugup dan paniknya sirna dan
senyuman merekah kian permanen di wajahnya yang memang sudah manis.

Beberapa minggu kemudian, Mira tampak memberiku sebuah hadiah.

“Apa ini Mir?”

“Buat kamu.” Sebuah kotak segi empat. Tanpa bungkus kado hanya ditempel dengna isolasi saja. Perlahan isolasi aku buka dan isinya pun sebentar kemudian bisa terlihat dengan jelas. Sebuah kue coklat berbentuk segiempat ukuran 10 x 10 cm3. Alhamdulillah.

“Bikin sendiri yah?”

“Iyah. Kemarin aku nyoba resep. Coba deh, enak nggak? Suamiku bilang kue  buatanku enak. Tpai aku nggak yakin karena dalam pujian yang diberikan oelh suamiku memang tidak pernah ada kata tidak enak atau kurang bagus.Aku mau minta komentar kamu. Jujur deh, apa pendapatmu?” Mira bertanya sambil menatapku dengan rasa ingin tahunya.

Sudah dua minggu ini dia tidak pernah lagi membawa saputangan yang selalu setia menemaninya kemana pun dia pergi. Kini kemana-mana tangannya sibuk membawa kantong plastik besar berwarna hitam yang berisi  barang dagangan. Mira termasuk temanku yang sukses dengan barang dagangannya. Seleranya dalam memilih barang dagangan yang ingin ditawarkan lumayan bagus. Baju-bamuyang dia tawarkan selalu manis baik model maupun warnanya. Harganya juga tidak terlalu mahal apalagi dengan sistem penawaran model kreditan beberapa kali bayar. Dalam tempo satu bulan setelah dia pertama kali mencoba berdagang dahulu, bukan Mira yang  mencari pembeli tapi pembeli justru yang bertanya padanya apakah dia punya stok dagangan. Mira memang punya bakat besar dalam berdagang. Aku
mencolek kue coklat buatan Mira. Kue coklat memang kegemaranku.

“Hmm… enak nih. Cuma sedikit pahit. Kamu campur kopi yah?” Aku bertanya sambil tak henti mencolek kue coklat buatan Mira. Mira mengangguk sambil
tersenyum.

“Iyah. Sebab coklat mahal. Tapi kalau pakai kurang coklat jadi kurang pekat warnanya jadi aku tambahin kopi.” Senyumnya mengembang.

“Cerdik. Tapi kurang jujur tuh.”

“Loh… namanya juga usaha. Kalau terlalu jujur nanti aku nggak dapat
untung lagi.”

“Masa iyah sih nggak untung sama sekali?”

“Eh.. untung sih, tapi sedikit, tahu.”

“yah sudah terserah kamu deh Mir. Toh yang harus bertanggung jawab di
akhirat kelak juga kamu sendiri, bukan orang lain. Tapi aku sendiri,
hmm… kalau lagi bungkus paket sembako pun aku tidak pernah memasukkan
kopi dalam paket sembakoku.”

“Kenapa? Kopi kan banyak suka lagi.”

“Iyah sih. Tapi aku nggak pingin karena ada unsur lain dari kopi yang masih diperdebatkan apakah baik bagi kesehatan atau tidak. Aku sendiri
karena perdebatan itu menghindari minum kopi. Terus kenapa juga harus ngasih orang lain yang kita sendiri kalau dikasih pilihan malah tidak
memilihnya? Eh…. Tapi itu mah terserah keyakinan masing-masing. “ Mira terdiam mendengar perkataanku.

“Eh.. gimana perkembangan dagangannya?” Aku mencoba memecah kekakuan yang tiba-tiba terjadi antara aku dan Mira. Senyumnya langsung terkembang.


“Maju pesat. Suamiku saja sampai keheranan melihat ternyata aku tuh bisa  juga dagang.”

Lalu Mira asyik bercerita tentang semua pujian dan kekaguman suaminya yang ditujukan untuk dirinya. Juga tentang semua dagangannya yang selalu
laris manis. Juga tentang perkembangan keuangan keluarganya yang meningkat pesat. Lalu tentang rencananya untuk membantu keluarganya.
Terus dan terus seakan hidupnya akan berlangsung seribu tahun lagi.

Terkadang untuk memulai sesuatu itu, selalu muncul keraguan akan batas kemampuan yang kita miliki. Dimana saja, ketika melihat beberapa undakan anak tangga yang harus kita daki, yang pertama kali keluar dari dalam kepala adalah pertanyaan, apakah saya mampu mendakinya?

Tapi, siapapun orangnya, tak akan pernah tahu batas sesungguhnya dari semua kapasitas yang dia miliki jika dia tidak pernah mencoba dengan langkah awal. Sama seperti bocah yang tidak akan pernah bisa berjalan jika tak pernah memulai belajar untuk melangkah. Bukankah untuk bisa sampai ke puncak tertinggi selalu dimulai dari anak tangga yang paling bawah? Karenanya, Jangan pernah memberi penilaian rendah terhadap kemampuan yang kita miliki jika ternyata kita tidak pernah berusaha untuk menggalinya semaksimal mungkin.. Bukankah Allah tidak pernah memberi cobaan di luar kemampuan hamba-Nya? Lalu, apa yang mendorong kita ragu pada kemampuan diri sendiri untuk mencoba lebih baik lagi dari sekarang? Selamat berusaha.